‘Gado-Gado’ Kehidupan

Bonjour, selamat pagi. Sudah minggu kedua dibulan agustus. Bagi teman-teman yang berpuasa, berarti kalian sudah menahan lapar dan haus (serta sabar dan teman-temannya) selama 9 hari.
Sedikit “menyinggung” tentang berpuasa, Senin kemarin, saya membaca berita online. Saya sempat kaget, kasian, tapi ya ga bisa berbuat apa-apa juga. Bisa dibaca disini. Sewaktu saya membaca berita ini, yang berkomentar masih 1 orang. Dan saya suka dengan commentnya, yang mengatakan bahwa kenapa harus memaksakan. Padahal puasa itu menahan nafsu (lapar, haus, marah). Menghormati (menurut saya) tidak harus dengan memaksakan kehendak kan? Menghormati (menurut saya) adalah kalau kita mengetahui seseorang sedang berpuasa kita tidak “menguji” mereka. Lalu bagaiman dengan orang lain yang berpuasa di bulan lain untuk menyambut hari tertentu? Ya sedikit memberikan renungan bagi kita, apakah cara yang dilakukan dalam menghormati sudah benar.

Post kali ini memang sedikit “gado-gado” ya topik nya. Karena menceritakan berbagai macam hal yang baru saja saya alami. Oke, langsung saja. Saya memiliki sahabat dekat. Sangat dekat sekali bahkan sampai kami bisa saling merasakan (kalo orang bilang uda feeling). Baru-baru ini, sahabat saya (sebut saja si ‘A’) membuat pengakuan. Oke, memang saya akui dia orang yg pendiam, memendam perasaan, dan bukan orang yang suka terbuka dengan siapa saja (bahkan dengan saya sendiri). Dan pengakuan yang menurut saya cukup berani. So what, sah-sah saja dia mengaku seperti itu didepan saya. Saya tidak mempermasalahkan status nya. Toh dengan keadaan dia seperti itu, saya jadi banyak belajar dengan hal-hal yang selama ini orang lain anggap najis, tabu, dan istilah lainnya yang memang menyudutkan.
Terima kasih untuk ‘A’ yang sudah mau berbagi dan percaya dengan saya. Memang dia sempat bercerita bahwa kenapa dengan status nya ini, ada sebagian (mungkin banyak) yang tidak mau lagi berteman, menjauh pelan-pelan, bahkan sampai marah (Walaupun dia baru menceritakan kepada saya, tapi dia sudah sering mendengar, melihat org dengan status tersebut). Mungkin karena ajaran budaya. Ya mungkin. Tapi coba pikiran kita lebih terbuka. Apakah dengan status yang dia panggul, bisa merubah kita secara langsung? Atau dengan status seperti itu, kita akan ikut-ikutan?
Saya memang mengenal keluarga nya juga. Dengan latar belakang yang baik, saya sempat tidak menyangka. Dan akhirnya si ‘A’ ini menceritakan juga ‘isi’ dari rumahnya.
Oke, itu mungkin menjadi salah satu faktor. Tapi, hhm, ya suwdahlah, itu biarkan menjadi rahasia dirinya dan Dia yang tau. 🙂 Tapi saya sebagai sahabatnya, cukup salut dengan dia. Membungkus nya rapi sehingga membuat orang yang memang senang menilai ‘cover’ nya cukup terkesima. Cerdas memang cara yang digunakan. Tapi ‘bungkus’ itu sepertinya sudah mulai di bungkus dengan tidak rapi. Hhm, mungkin ada faktor lain yang menyebabkan dia tidak seperti biasanya. Walaupun saya sudah ada feeling, tapi prinsip saya, biarkan dia menikmati dengan caranya.
Saya tidak menghakimi dia “heyy, loe yakin dengan jalan loe?” atau dengan hakim2 yg lain. Setiap orang mempunyai sisi negatif yang tidak bisa dipungkiri kan? Tergantung memandang sisi negatif itu dari mana. Apakah dia memandang sisi negatif itu sebagai suatu aib, suatu anugerah, suatu kesalahan, dan suatu2 lainnya, cmn diri kita sendiri yang tau. Dan, apakah kita yakin kita selalu benar? Saya rasa tidak juga. Banyak orang yang menilai orang lain salah, dosa, bla bla bla, padahal dia sendiri belum tentu (berbuat) benar kan ?
Memang paling mudah adalah menilai orang dari cover nya. Selain mudah keliatan, itu yang akan mencerminkan kita kedepannya. Tapi, memang tidak menjamin sebuah cover mencerminkan isinya. Walaupun ada beberapa contoh dimana cover dan isi sedikit berbeda.
Sahabat saya sempat menceritakan dan bertanya “mengapa hidup dengan status seperti ini, arah dan orientasi ga jauh-jauh dari sana?” Saya kemudian bertanya dalam hati “hhhm, sepertinya tidak juga, bahkan yang tidak berstatus seperti itu pun, mengarah kesana.” Sahabat saya ini kemudian melanjutkan cerita nya. Dia memang yang saya tau memiliki prinsip. Dan saya salut bahwa prinsip nya memang digunakan saat menjalin hubungan dengan seseorang (sebut saja si ‘B’). Sahabat saya menceritakan bahwa hubungan dengan si B lebih mengarah ke (hampir kalau saya bilang) sex. Okay, that’s fine. Itu manusiawi kok (menurut saya). Tapi bagaimana kita bisa menyikapi dengan menahan diri. Dan akhirnya dia bercerita kalau hubungan nya harus diakhiri. Hhmm, sedih mendengarnya, tapi cerita pun berlanjut.

Sahabat saya ini sempat bertanya “Apakah suatu hubungan atau berelasi dengan status seperti ini memiliki pola yang sama?” Saya bingung dengan maksudnya, lalu saya tanya balik “Pola seperti apa memangnya?”
Dia pun menjawab “Ya kenal, ngobrol, cocok, jadian, making love, berantem, putus, cari baru, kenal, …dst” Saya diam sejenak. Dalam pikiran saya “Hhhhm, mungkin yaa, atau memang hubungan biasa pun juga seperti ini polanya?” Dan akhirnya kami mengakhiri pembicaraan kami karena hari sudah malam. Maklum, ngobrol di tempat umum sambil menikmati secangkir kopi dan waktu tidak berasa, menyebabkan sang waiters menyapa kami dengan halus. Hahaha.

“Oke, loe yakin tetep temenan kalo gue gay?” ujar sahabat saya. Itulah kalimat yang saya dengar. Diam dan ga komentar apa2 dlm waktu sejenak. Dan saya berucap “Haa, nyante aja, justru gw malah seneng jalan sama loe. Dan ada yg mengatakan bahwa gay adalah teman yang setia.”
Saat kami mengobrol pun, saya melihat dia bercerita (sedikit) lepas. Kenapa saya bilang sedikit? Ya mungkin dia tetap belum siap untuk menceritakan ini ke sahabat nya.
Setelah kami pulang, seperti biasa kebiasaan yang saya lakukan, saya mengkabari dia kalau saya sudah sampai di rumah dan mengucapkan terima kasih, bahwa ceritanya ternyata selama ini yg membuat dia bisa tegar dan belajar banyak (dan bisa mengajari saya banyak hal juga).

Status gay/lesbi/transgender/ apapun sebutannya yang (sampai saat ini) masih dipermasalahkan oleh orang-orang. Lalu mengapa kalau orang tersebut menyandang status itu? Apakah mereka menggangu hidup anda? Cobalah berpikir terbuka atau mungkin lihatlah dari perspektif yang berbeda. Memang tidak mudah melakukan (apalagi hanya mengetik seperti ini).
Tapi dari sahabat saya,  saya belajar banyak hal tentang menghargai sesuatu, menghargai perasaan, dan sebuah prinsip. 🙂

Advertisements

2 Responses

  1. Postingan mu makin jago aja 😀 Simple tapi mengena 🙂

    • Hahaha, thanks boni. Ga koq, biasa aja ini, cuman berbagi pengalaman aja. Dan mencoba membuka pikiran dari orang2 yang kadang mendiskreditkan orang dengan status2 tersebut. 🙂 Masih belajar banyak dr sahabat saya ini. 🙂 Selamat membca yaaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: